ATURAN
MEMBAWA KEBERKAHAN
Santri,
mendengar panggilan itu mungkin sepintas kita berfikir bahwa yang mendapat
gelar santri itu adalah orang yang sedang mencari ilmu di Pesantren. Hal ini
juga dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) makna santri berarti
(1) Orang yang mendalami Agama Islam; (2) Orang yang beribadat dengan
sungguh-sungguh (orang yang saleh); (3) Orang yang mendalami pengajiannya dalam
Agama Islam dengan berguru ke tempat yang jauh seperti Pesantren dan lain
sebagainya.
Bicara
soal Santri maka tidaklah heran setiap orang beranggapan bahwa Santri itu
orangnya alim, pinter mengaji, sholatnya tepat waktu, intinya orang yang baik
dalam hal Agama. Padahal dalam kenyataannya Santri juga manusia biasa yang
masih memiliki hawa nafsu, memiliki keinginan untuk menikmati indahnya dunia.
Disinilah muncul
kewajiban Pengurus dan Pengasuh Pondok Pesantren untuk menyeimbangkan antara
Ilmu dunia dan Ilmu akhirat. Seperti dawuh para Kyai terdahulu “Orang yang
hanya bisa ilmu akhirat saja, ibarat orang yang pincang. Sedangkan orang yang
hanya bisa ilmu dunia saja, ibarat orang yang buta”.
Seperti
dalam hadist Rosulullah SAW “Barang siapa menginginkan dunia maka dengan
ilmu, barang siapa menginginkan akhirat maka dengan ilmu, dan barang siapa
menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) maka dengan ilmu”. Dari sini
sudah jelas bahwa ketika kita menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat
hendaklah sedari dini kita mempersiapkan dengan mencari ilmu
sebanyak-banyaknya. Di Al qur’an sudah dijelaskan bahwa “Dunia adalah ladang
kita tempat untuk menanam, dan ketika di Akhirat nanti kita akan memanen buah
dari apa yang kita tanam”
Namun
semua itu tidaklah mudah, menjadi seorang santri dan menuntut ilmu di zaman
yang serba modern ini sangatlah berat. Dimana pergaulan dalam lingkungannya
sudah berbeda, dulu tidak ada yang namanya Komputer, Hp, Internet, Media Sosial
dan lain sebagainya. Dan sekarang ada, jika kita sebagai santri tidak mengikuti
maka akan ketinggalan, ketika kita mengikuti maka kita harus pandai menyaring
memilih mana yang positif dan mana yang negatif.
Saat
ini santri dihadapkan dengan hal tersebut. Ketika tata tertib pondok
bertentangan dengan situasi dan kondisi yang dibutuhkan oleh santri. Banyak
yang bilang “mondok itu ngak enak, tidak bisa bebas, semuanya di atur oleh
pengurusnya membawa HP saja tidak boleh”. Menurut saya itu adalah persepsi
yang kurang tepat, karena mereka belum pernah merasakan nikmatnya hidup di
Pesantren. Padahal yang namanya menjelajah dunia tidak harus menggunakan
Gadget, karena dengan membaca buku kita akan memperoleh pengetahuan yang lebih
banyak lagi.
Untuk menyikapi hal tersebut sekarang banyak Pondok
Pesantren Modern yang pembelajaran di dalamnya bernuansa religius dan modern. Selain sekolah formal dan non formal (pengajian kitab
kuning dan madrasah diniyah) ada juga kegiatan ekstrakulikuler seperti qiro’ah,
pencak silat, musik banjari, multimedia, bahasa inggris, bahasa arab, dll. Ada
juga pondok pesantren yang hafalan qur’an. Inovasi baru ini adalah sebuah cara
agar pesantren tetap diminati oleh anak remaja yang akan menjadi generasi
penerus Bangsa Indonesia ini.
Hidup
di dunia Pesantren dan menjadi santri bukan hanya belajar soal ilmu dunia dan
akhirat saja, namun mereka semua belajar disiplin, mandiri, sabar, saling
menghormati dan menyayangi, membudayakan antri, dan lain-lain. Karena sejatinya
hidup di Pesantren adalah sebuah gambaran nyata kehidupan dalam masyarakat.
Kita belajar hidup dan mencukupi kehidupan sendiri tanpa bantuan orang tua.
Ketika pola pikir generasi penerus bangsa
Indonesia ini di didik seperti halnya santri. Maka sedikit banyak kita berusaha
mencetak generasi emas, calon pemimpin yang sempurna, karena mereka berbekal
pengetahuan, berjiwa agamis, dan terbiasa bersosialisasi dengan masyarakat.
Mereka juga memiliki kemampuan dan keterampilan yang sudah mereka pelajari di
Pesantren. Ketika dihadapkan dengan teknologi yang canggih tidak ketinggalan.
Dan ketika ada gejolak atau godaan duniawi mereka tidak mudah terpenggaruh.
Inilah yang sebenarnya menjadi jawaban cita-cita bangsa indonesia mewujudkan
“Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghafur”.
Wahai
Santri Nusantara janganlah berkecil hati, Ikhtiarmu akan berbuah manis di masa
depan. Dan berbanggalah wahai Ayah Ibu yang telah memilih Pesantren sebagai
tempat Pendidikan bagi Putra-Putri Anda.
Tulisan ini ku persembahkan untuk pengasuh PP. Miftahul Ulum, Tlogobedah Hulaan Menganti Gresik, Kepada kedua orang tua saya, santri dan wali santri di seluruh dunia, khususnya PP.Miftahul Ulum dan Ustadz Ustadzah saya. Terima Kasih......♛♛

Komentar
Posting Komentar